Kenapa yang datang pasti akan pergi
Tapi yang pergi belum tentu akan kembali ?
:)
Selasa, 23 September 2014
Rabu, 17 September 2014
Part I
Disini akan ku ceritakan tentang bagaimana ku mulai menyukai
sosok Panggih. Tidaklah munafik, aku memang mudah menyukai seseorang jikalau
dia saat bisa membuatku selalu tersenyum. Dia menjadi sosok penghiburku di
setiap hariku. Bertemu dengannya hanya membuatku semakin terus ingin
bersamanya. Tak pernah ada kata bosan dan jenuh ketika itu. Aku yang tiap hari
telponan, sms’an bahkan tiap pulang sekolah selalu bertemu dengannya.
Tiba tiba tanpa ada badai, hujan atau petir, ada yang seakan
berbisik di telingaku. Seakan memberitahu isyarat tentang dia. Ku buka satu
persatu pesan Facebook ku. Mencari tau apa yang membuatku tak tenang. Ternyata
ada yang ku temukan. Dia sempat berucap. Ingin Online facebook yang satu lagi.
Apa itu artinya ? dia punya facebook dua ? Aku tidaklah langsung bertanya
padanya. Ku cari satu persatu dari teman facebook nya yang sekarang ku tau.
Hingga aku lihat foto profil yang sangat mirip dengan dirinya. Ku Klik profil
tersebut. Alhamdulillah ternyata benar, ini facebook nya yang satu lagi.
Harusnya aku langsung saja memutuskannya. Tapi entahlah,
rasanya aku ingin sekali mendengarkan penjelasannya tentang apa yang kulihat di
facebook nya tersebut. Pulang sekolah kali ini aku pergi bersama dia. Ku ajak
di duduk disebuah taman luas. Sebut saja RRI “masih jamannya dulu kesana”. Ku
setel lagu Story In My heart. Ku buka facebook di handphone ku. Ku perlihatkan
padanya tentang foto dan status facebooknya kali itu.
“Apa ini yang? Kamu pacaran sama aku tapi kamu masih juga jadian sama Dewi?
Belom lama kamu baru putus sama dia. Kamu masukin foto aku dan kamu bilang aku
itu mantan kamu. Apa sih? Apa salah aku? Kamu kalo ga sayang sama aku ga gini
caranya.” Tetesan air mata pertama pun turun tepat di pipiku. Itu tandanya aku
sudah tak dapat lagi menahan emosiku. Orang yang selalu membuatku tersenyum,
kini justru membuatku menangis.
Dia menggenggam tanganku erat, yang dari tadi memukul
badannya. Dia diam tertunduk dan ikut meneteskan air mata. Ku lihat sangat
jelas raut penyesalan dalam dirinya. Terlihat benar benar jelas ketika dia
ucapkan
“Maafin aku, maafin aku yang. Aku sayang kamu”
Dari sini, dia langsung memutuskan benar benar hubungannya
dengan Dewi. Dia langsung benar benar berubah. Dia beri tau aku semua password
Facebook nya. Bukan Cuma satu tapi keduanya. Handphone pun yang biasanya tak
pernah lepas dari genggamannya. Tapi dia mulai memberikannya padaku. Seakan tak
takut lagi akan ada SMS atau Telpon dari cewek lain. Aku pun mulai luluh dan
berusaha melupakan semuanya. Hingga akhirnya ternyata malah aku yang
mengecewakannya. Ku buat dia Marah dan sangat sangat Marah. Kuliat muka nya
yang memerah dengan tatapan mata yang membuatku seakan tertusuk dan membuat ku
benar benar merasa bersalah.
Kala itu aku bersama dia online di warnet. Dengan satu PC.
Dia melihat comment ku bersama Aris. Disitu, Aris yang biasa ku sebut Kodok
memanggilku dengan kata “Sayang”. Aku memang tidak menggubrisnya. Tapi yang
membuat dia kecewa ketika aku membalas Comment nya dengan “Aku,kamu,”.
Sebenarnya bukan masalah besar.
Tapi, Panggih memanglah sosok yang over protectif dan
pencemburu. Aku berulang kali mengganti kartu perdana ponselku. Lebih dari 10
kali mungkin. Hanya karna dia sangat tak menginginkanku berhubungan dengan
cowok satu pun. Baik teman SD, SMP, SMK, atau teman main sekalipun. Kecuali ada
hubungan keluarga. Egois memang, tapi aku menilainya sebagai cara dia
menjagaku. Dia benar benar terlalu takut kehilanganku. Itu yang aku tau saat
itu .
Tapi apa ? Kenyataannya sekarang aku yang mengecewakan dia.
Mungkin bagi orang ini impas. Tapi tidak bagiku. Aku menyakiti dia disaat dia
sudah memperbaiki semua. Berubah untukku. Dan menunjukan benar bahwa dia hanya
memiliki aku sebagai pacarnya. Tanpa adanya wanita lain. Aku menyesal …
Dia sedikit berbeda, dari kejadian itu. Dia lebih sering
diam. Bahkan pernah suatu malam, dia menangis di telpon. Ketika aku mencoba
memperbaikin semuanya kembali. Ditelpon bukan hanya dia yang menangis, tapi aku
juga. Lebay mungkin. Tapi ini benar benar terjadi.
Dia yang masih sayang dan aku yang belum siap di tinggalkan.
Sama sama saling menyadari kesalahan masing masing. Dan akhirnya kita berbaikan,
merubah semuanya. Dan memulainya dari awal lagi.
Ada yang telah ku ceritakan pada part sebelumnya. Aku
taruhan sama Maya hanya karna ingin pergi ke curug. Dan sekarang benar benar
terwujud. Dia yang selalu saja begadang. Karna saat itu dia belum mempunyai
pekerjaan. Dia ingin membatalkan kepergian ke curug yang mungkin tinggal satu
jam lagi dari jadwal. Aku merengek, dan marah ketika itu. Dia pun akhirnya
menuruti keinginanku. Membawa motornya yang ketika itu tidak terlalu sehat.
Melupakan rasa kantuknya yang teramat berat. Ku liat pagi saat aku pergi
berkumpul ke rumah Maya, lingkaran hitam ada di kelopak matanya. Dengan mata
yang memerah dan Muka yang sedikit lesu. Dia tetap menepati janjinya.
Aku tak tega melihatnya saat itu. Ingin rasanya aku kembali
pulang dan membiarkan dia tertidur. Tapi ? Ini janjiku, ini taruhanku. Kubuang
jauh jauh rasa ga tegaku terhadapnya. Salah sendiri kenapa udah tau pagi mau ke
curug malam malah begadang. Pikirku saat itu.
Perjalanan ke sana sangat lancar, Alhamdulillah tanpa
halangan. Tapi dia mulai menurukan laju kecepatan motornya ketika dalam
perjalanan pulang. Mungkin badannya tidak sekuat pagi tadi. Kantuknya mulai
menggerogoti dan memintanya untuk beristirahat. Akhirnya kita berhenti di
jalan. Membiarkan kawanan yang lain pulang duluan. Ku biarkan dia rebahan di
sebuah kursi. Ku beli satu botol minuman dingin. Semoga dapat membuatnya segar
kembali. Tapi ? Itu hanya sementara. Ketika ku lanjutkan perjalanan. Dia benar
benar tak kuat lagi. Hampir menabrak mobil lain yang ada di depan
Ku memintanya
berhenti. Aku memberanikan diriku untuk menboncengi dia sekarang. Aku memang
bisa mengendarai motor. Cuma aku lebih ke trauma ku saat dulu jatuh dari motor.
Aku jadi seakan takut memboncengi orang lain. Itu yang aku rasakan. Aku sangat
pelan membawa laju motor. Dia yang mungkin risih dan tidak enak memintaku
kembali berhenti. Dia memaksakan dirinya untuk membawa motor kembali. Dia hanya
minta, agar aku selalu stand bay minum dan selalu memberikan lap basah dengan
handuk kecil yang sudah ku beri air untuk sesekali mengelap mukanya.
Sepanjang perjalanan aku di hantu rasa was-was. Ini yang
membuatku benar benar sayang kepadanya. Harusnya aku tak sejahat ini. Aku bisa
mencelakai dia bahkan diriku sendiri ketika itu. Tapi apa? Tak ada satu kata
pun marah atau kesal terhadapku. Dia benar benar menyayangiku. Aku sangat yakin.
Semua berjalan seperti biasanya, kembali seperti dulu. Tapi
aku benar benar mengecewakannya lagi untuk yang ke dua kali. Alasanya tetap
sama. Karna aku berhubungan dengar teman cowok ku. Aku hanya membalas SMS
seseorang yang ketika itu menyukaiku. Sebenarnya simple. Tapi dia sangat
mempercayaiku. Dia selalu menanamkan dalam ingatannya aku takkan ada kontek
satu pun dengan cowok lain. Dan dia
kembali kecewa. Tidak seperti dulu, kecewanya memang tidak terlalu terlihat.
Tapi selang beberapa minggu aku rasakan benar benar perubahannya. Dia mulai
cuek padaku. Aku yang biasanya selalu telponan tiap malam, sekarang mulai
berubah. Ku tanyakan padanya. Dia menjawab dengan sangat jujur, bahkan seperti
tidak memikirkan perasaananku.
“Aku bosen, aku pengen kita putus tapi aku ga mau kehilangan kamu. Aku ga mau
nyakitin kamu juga. Aku sayang banget. Aku bingung sekarang mesti gimana?”
Aku yang ditelponnya hanya bisa menangis. Ku pikir ini akhir ceritaku bersama
dia. Tapi dia melanjutkan pembicarannya.
“Besok kamu kerumah aku pulang sekolah. Aku jelasin semuanya besok. Udah kamu
jangan nangis. Jangan buat aku sedih. Aku ga tega kamu nangis. Kamu tau itu kan?
Kamu nangis aku tutup telponnya.”
Ku hentikan tangisku meski masih terasa sesak. Seakan tak
ada lagi oksigen di udara ketika itu. Aku yang biasanya betah berjam jam
bertelponan, sekarang lebih memilih untuk tidur duluan. Alasanku mungkin karna
aku lebih memilih menenangkan diriku sendiri. Menguatkanku ini bukan akhir dari
segalanya. Maklum ini pacar yang menurutku paling lama sampai ketika itu 8
bulan. Biasanya aku hanya berpacaran, sebulan, dua bulan bahkan pernah hanya 3
hari. :D
Hari berganti, aku benar benar bertemu dengannya. Tepat di
depan rumahnya. Aku duduk, tapi tak berbicara sepatah katapun. Aku hanya menunggu
dia memulai pembicaraan. Tanpa dia memulai, aku akan tetap diam. Aku benar
benar kecewa ketika itu.
Dia duduk di sampingku, memandangku, dan menarik nafas
panjang lalu berkata ……
Lanjut Part II yah :)
“Maafin aku, maafin aku yang. Aku sayang kamu”
Ku memintanya berhenti. Aku memberanikan diriku untuk menboncengi dia sekarang. Aku memang bisa mengendarai motor. Cuma aku lebih ke trauma ku saat dulu jatuh dari motor. Aku jadi seakan takut memboncengi orang lain. Itu yang aku rasakan. Aku sangat pelan membawa laju motor. Dia yang mungkin risih dan tidak enak memintaku kembali berhenti. Dia memaksakan dirinya untuk membawa motor kembali. Dia hanya minta, agar aku selalu stand bay minum dan selalu memberikan lap basah dengan handuk kecil yang sudah ku beri air untuk sesekali mengelap mukanya.
Aku yang ditelponnya hanya bisa menangis. Ku pikir ini akhir ceritaku bersama dia. Tapi dia melanjutkan pembicarannya.
“Besok kamu kerumah aku pulang sekolah. Aku jelasin semuanya besok. Udah kamu jangan nangis. Jangan buat aku sedih. Aku ga tega kamu nangis. Kamu tau itu kan? Kamu nangis aku tutup telponnya.”
Rindu
Terik mentari membangunkanku dipagi ini,
Masih sama seperti hari kemarin .
Masih terasa sesak, dan semakin sesak .
Masih ada yang tertahan, terpendam .
Rindu ini ..
Ia membuatku seakan tidak bisa bernafas.
Membuat udara seakan tak menyisakan lagi oksigennya untukku ..
Oh, tuhan .. Bagaimana caranya ku ungkapkan ?
Aku menutupi, karna ku tak ingin membuatnya tak tenang disana ...
Tapi sungguh Tuhan, Aku merindukan kehadirannya sekarang :'(
Masih sama seperti hari kemarin .
Masih terasa sesak, dan semakin sesak .
Masih ada yang tertahan, terpendam .
Rindu ini ..
Ia membuatku seakan tidak bisa bernafas.
Membuat udara seakan tak menyisakan lagi oksigennya untukku ..
Oh, tuhan .. Bagaimana caranya ku ungkapkan ?
Aku menutupi, karna ku tak ingin membuatnya tak tenang disana ...
Tapi sungguh Tuhan, Aku merindukan kehadirannya sekarang :'(
Senin, 15 September 2014
Awal berkenalan
Entah apa yang tiba tiba merasuki pikiranku, sehingga membuatku lagi rajin rajinnya berbagi cerita seperti ini.
Hal yang ingin ku ceritakan sekarang, sedikit mundur jauh, kurang lebih ke 3 tahun yang lalu.
Berawal dari sebuah facebook ku. Pas waktu ini masih jaman jamannya Facebook lagi tenar-tenarnya. Mungkin baru ada Twitter, tapi juga penggunanya masih sangat sedikit, Path tak ada, BBM android juga belum keluar ke permukaan bumi ini.
Tepat saat aku sedang PKL di sebuah Kantor Pelayanan Pajak Pratama Cibinong. Masih tetap hangat dalam ingatanku. Bulan Juli 2011 saat itu. Untuk tanggal aku lupa. Mungkin jika aku mau mengulang kembali dan melihat satu persatu pesan facebook ku dengannya yang ada ribuan pesan itu, akan ku temukan kapan pastinya aku dan dia mulai berkenalan.
Dia tiba tiba membuat Pc ku berbunyi ketika itu. “Kling”
mungkin bunyinya seperti ini.
Percakapan singkat ini yang aku ingat. Entah salah atau benar . Sedikit alay
mungkin . Maklum masih jamannya tulisan gede kecil saat itu. Dan aku termasuk
di dalam kaum ke alay’an ini . Hahaa
“HaY, di siNi UchieL, disaNa sApa?”
“Rhaa, kENapa?”
“MiNta noMer Hp Nya Dund ?”
“BWt ?”
“BWt dIjuaL dItukang beLing. KaLi aja LakU”
“HhaHa ..”
“Ech, yWdh nIi NomEr gW 0838xxxxxxx . SMs aja yaCh. gW mO On FaceBooK yG sTu
Lgie." ….End…
Terlalu singkat mungkin tapi hanya itu yang aku ingat saat awal pertama aku dan ia berkenalan. Ku tak pernah tau kalau akan terjadi seperti ini. Aku yang hanya taruhan pada Maya, teman sekolahku dulu. Untuk membawa dia *orang yang baru ku kenal lewat facebook* pergi ke curug bersama Maya dan Pacarnya. Aku lupa taruhannya apa, yang jelas yang aku ingat aku berhasil membawa dia pergi ke curug bersama ku dengan perjuangan dia yang Sangat sangat membuatku merasa Dicintaiiii . Asoyyy :D
Awal pertemuan kita, ketika dia menawarkan dirinya untuk mengantar ku PKL di daerah Bogor. Sebenarnya harusnya Cansel, karena tibatiba motor yang harusnya di pakai untuk mengantarku. Bertepatan dengan Mama nya yang akan Pergi ke Tempat lain. Mungkin karena dia terlalu takut mengecewakanku, dia meminjam motor Beler “Hendy Kurniawan” teman SMP ku. Awalnya ku tak tau dia berteman bahkan tetanggaan dengan Beler. Sudahlah jangan focus ke beler !!
Dia pertama kalinya menjemputku di bawah turunan jalan.
Kulihat dari jauh, sosok yang kurus tinggi dengan rambutnya yang agak gondrong
dan memakai baju biru dan topi. Penilaiku terhadapnya masih biasa aja. Ga ada
yang istimewa dari pertemuan pertamaku dengannya .
Dia bercerita tentang motor yang digunakan sekarang bukan motor dia, dan dia hanya membawa uang Rp. 5.000-, saat itu . Dengan bensin yang dicukup cukupin, dia mengantarku sampai ke tempat PKL ku.
“Aku ga pulang ke rumah, aku kerumah bokap aku aja daerah
pemda sini. Kalo aku pulang, bensinnya ga cukup. Aku ga ada uang. Nanti aku
jemput lagi kok. Kamu sms atau miscall aku aja. Takutnya aku ketiduran. Semalam
aku begadang sama bocah bocah soalnya.” Jelasnya di akhiri dengan senyuman.
“Ohh ini.. ku ulurkan tanganku memberikan selembar uang Rp. 10.000” saat itu
bensin masih di subsidi Rp. 4.500-, cukuplah buat beli bensin dua liter mah.
“Ga usah. Aku kerumah bokap aku aja. Lagi juga sekalian main kerumah bokap. Udahhh..
ga usah. Aku ga mau ngerepotin kamu.”
Dia menolak kebaikanku dengan cara lembutnya.
Sampai saatnya aku pulang. Kabar mendadak yang akan ku ceritakan padanya
Tepat ketika dia sampai duluan menjemputku, tanpa aku sms
dan menelponnya, dia sudah duduk manis di motornya dan menunggu ku pulang.
Kubilang padanya . Semua teman PKL ku mengadakan acara buka puasa bersama di
rumah Maya. Karena tepat pada saat itu adalah bulan Ramadhan. Dia tanpa rasa kesal atau apa hanya bilang.
“Ohh yaudah aku antar ya. ”
Aku pun tiba di rumah Maya saat itu. Yang kira kira hanya 20 Menit dari tempatku PKL. Aku yang baru bertemu dengannya mulai merasa bahwa dia sosok lelaki yang baik. Aku tak berani memintanya untuk ikut masuk ke rumah Maya dan buka puasa bersama. Ku biarkan dia menunggu ku di depan gang rumah Maya. Kejam memang tapi dia yang lebih memilih seperti ini, dengan alasan malu katanya sama teman teman ku .
Lantunan Adzan berkumandang. Ku kirimkan pesan singkatku memintanya
agar buka puasa .
Saat itu ku baru ingat, uang yang dia bawa tidak akan cukup buat beli makanan
pembuka. Kecuali dia hanya beli air putih dan roti. Acara memang belum selesai.
Tapi ada perasaan tidak tenang ku padanya. Ku kirim pesan singkat lagi ke
padanya .
“Aku udahan nih buka puasanya. Tapi belom pada pulang. Kita duluan aja deh,
kamu samper aku lagi. Aku nanti izin pulang duluan ke yang lain. Kasian kamu
udah nungguin aku.”
“Gapapa, ga enak. Kamu nunggu teman teman kamu pulang juga aja. Aku gapapa. Aku nunggunya di warung ko.” Katanya yang berusaha menenangkan hatiku, seakan dia di sana bisa berbuka puasa tak seperti yang ku bayangkan.
Sekitar pukul 8 Malam acarapun benar benar selesai. Aku kembali mengirim pesan singkatku memintanya untuk menjemputku. Awalnya dia menolak dengan alasan ga enak kalo cuma garagara ada dia aku jadi pulang duluan. Padahal kan emang acaranya udah selesai tapi tetap aja ga percaya hadehhh ….. Hingga akhirnya teman temanku pun pulang duluan.
Hapeku langsung berdering ketika itu. Ku buka kunci hapeku dan kuliat pesan darinya . “Aku di depan. Tadi teman kamu ngelewatin aku. Jadi aku kira udah pada pulang semua. Aku tunggu depan pagar ya.”
Aku langkahkan kakiku masuk kembali ke dalam rumah maya. Mengambil tasku dan pamit izin pulang terhadap orang tuanya .
Diperjalan pulang. Hapeku berdering kencang kembali. Kulihat panggilan dari mama saat itu. Ku angkat telpon darinya. Beliau menanyakan aku sedang ada dimana. Dan saat itu aku baru ingat bahwasannya aku lupa memberikan kabar aku akan pulang terlambat. Padahal saat itu masih jam 8an. Maklum lah anak bontot. Lebih dari jam 8 juga udah bunyi hapenya. Haha ..
Dibawanya aku dengan laju kecepatan yang lumayan membuatku takut. Menciptakan hembusan Angin yang menusuk ke tulang ketika itu, tepat pada saat musim hujan. Aku yang merasakan dinginnya hanya memeluk diriku sendiri dengan kedua tanganku . Mungkin dia tau apa yang kulakukan di belakangnya. Dia tiba tiba menurunkan kecepatan motornya dan memberhentikan motornya. Ku mulai berpikir negatif. Apa yang akan di lakukan terhadapku. Walaupun kita sudah resmi berpacaran sebelumnya. Tapi tetap saja aku tidak mudah percaya pada sosok laki laki yang berusia lebih tua 3 tahun di atas usiaku. Terlebih kita baru saja bertemu.
Dia membuka jaketnya perlahan. Membuat jantungku tambah berdetak kencang. Diberikannya sebuah jaketnya untukku. Memintaku untuk memakainya, seakan dia benar benar tak ingin membiarkanku merasakan kedinginan. Ku tersenyum manis. Dalam hatiku berkata “Ini namanya cowok” Haha .
Jujur saja, memang cewek lebih mudah tersentuh dengan hal yang sebenarnya kecil. Termasuk perhatian kecilnya untukku. Membuatku merasaaaaaaaa ………
Sudahlah, pasti kamu tau apa yang kurasakan ?
Aku mulai meyukainya, sosok cowok yang bernama asli Panggih Yoga Harto.
Kita sambung lagi besok yahhh :D. Aku lelah ceman-ceman :(
Harus Ku Ulang ?
Ketika ucapan ku sudah tidak lagi di dengar,
Apa harus aku mengulangnya berkali kali supaya kamu terus ingat ?
Minggu, 14 September 2014
Jadikan semua peNYESALan jadi pemBELAJARan
Salah satu orang yang sangat berjasa, tiba tiba nge-BBM ku.
Tepat ketika aku merasa jatuh tanpa ada sosok yang akan mengulurkan tangannya
dan membantuku kembali berdiri .
Mungkin memang dia peduli, oh bukan. Maksudku sangat peduli padaku, Menghiburku dengan semua lelucon konyolnya. Membuat pipiku seakan naik sedikit demi sedikit. Menciptakan senyuman kecil meskipun dalam tangisan . Yahhh, saat itu tepat pada malam hari saat aku putus dengan pacarku *dulu*. Seorang laki-laki bernama Raka yang berusia setahun di bawah usiaku . Berondong boo .. :D
Mungkin memang dia peduli, oh bukan. Maksudku sangat peduli padaku, Menghiburku dengan semua lelucon konyolnya. Membuat pipiku seakan naik sedikit demi sedikit. Menciptakan senyuman kecil meskipun dalam tangisan . Yahhh, saat itu tepat pada malam hari saat aku putus dengan pacarku *dulu*. Seorang laki-laki bernama Raka yang berusia setahun di bawah usiaku . Berondong boo .. :D
Entah firasat atau apa, aku tak tau. Sebelumnya ku
pertemukan Raka dengan sosok seorang
laki laki cenderung pendek tapi sangat perhatian dan humoris. Fawa,
sahabatku. Bahkan sudah ku anggap seperti saudara. Aku merasa tatapan Fawa terhadap Raka berbeda. Kucoba menepis semua karna tepat saat itu aku
merayakan hari ulang tahunku. Takkan ku biarkan ada rasa kepo dan negatif dari
tatapan Fawa ke Raka yang membuatku bertanya dan menghancurkan suasana.
Raka yang cenderung
cuek, tanpa bertanya hanya sibuk memainkan hapenya . Sedangkan Fawa, sibuk dengan caranya membuatku
kesal. Entah minta makanan lebih, minta minuman yang aneh ku dengar di
telingaku. Tapi tak sedikitpun ada rasa benci ku terhadapnya . Padahal hampir setiap
bertemu kita saling bertengkar. Ada atau tidak ada hal yang salah. Ya tetap aku
yang disalahkan. Tapi ini semua justru membuatku awet sama dia. Maksudku persahabatannya
loh yaaa :D
Mereka saling menatap dan saling melempar senyum, Fawa yang ku liat senyum tidak seperti
biasanya . Seperti senyum sinis, atau apalah. Awalnya ku berpikir, mungkin karena
Raka
dan Fawa berbeda. Raka tidak cepat bergaul seperti Fawa. Maksudnya Raka lebih sering
meluangkan waktunya untuk beristirahat dirumah, berbeda dengan Fawa lebih ke
kelayabannya dan berkelana dimalam hari bersama teman temannya, dan tidur di
siang hari. Atau mungkin mereka beda dunia, Dunia lain mungkin .. *focus*
Pendek cerita perkumpulan kecil merayakan hari ulang tahunku
di Detos pun selesai. Fawa entah
kenapa langsung saja pulang tanpa menunggu semua melangkah bersama ke luar Mall
. Aneh memang dari tingkahnya yang itu. Tapi sudahlah. Aku tak ingin negatif dulu
padanya.
Alhasil menyisakan aku, Raka,
Nedis, dan Novit. Saat itu memang Novit
dan Nedis berpacaran. Tapi sekarang
udah putus, selisih seminggu dari tanggal putusku. *apadah jadi cerita kisahnya
Novit Nedis.
Novit yang merasa masih kurang bersama Nedis, akhirnya
memutuskan untuk main terlebih dahulu ke rumahku. Ku nilai sebagai caranya
mengulur waktu memulangkan Nedis
pulang ke rumah. Dengan alasen “Masih Kangen”, dan Raka ? Tentunya ikut .
Setiba dirumah, Fawa
tak lama datang untuk mengambil motornya di rumahku. Dia hanya mengucapkan
salam dan langsung melewatiku dan memasuki pintu menuju kamar Mami “Ibu kandungku yang biasa ku
panggil Mama tapi di panggil Mami oleh Fawa”
Ku tak tau apa yang di perbincangkan mama dengannya di dalam rumah.
Selang berapa menit, dia keluar tanpa pamit, tanpa senyum dan tanpa salam melewatiku lagi. Oh god, ada yang salah kah padaku ? Apa yang membuatnya seperti ini ? Sosok yang sudah 4 tahun lebih ku kenal ? Ku kira ini semua karena dunia mereka berbeda, ku pikir masih ada ruang untuk mereka saling dekat. Tapi semua ternyata salah :’(
Ketika semua pulang, Raka, Nedis, Novit. Ku luapkan semua rasa kepo ku, ku ambil hapeku tepat di dalam tas yang tadi ku bawa. Dan tanpa berpikir panjang, ku BBM Fawa dan menanyakan semua tingkahnya yang aneh . Jawabnya hanya singkat
“W gapapa. Biasa aja. Aneh kenapa w ?”
Selang berapa menit, dia keluar tanpa pamit, tanpa senyum dan tanpa salam melewatiku lagi. Oh god, ada yang salah kah padaku ? Apa yang membuatnya seperti ini ? Sosok yang sudah 4 tahun lebih ku kenal ? Ku kira ini semua karena dunia mereka berbeda, ku pikir masih ada ruang untuk mereka saling dekat. Tapi semua ternyata salah :’(
Ketika semua pulang, Raka, Nedis, Novit. Ku luapkan semua rasa kepo ku, ku ambil hapeku tepat di dalam tas yang tadi ku bawa. Dan tanpa berpikir panjang, ku BBM Fawa dan menanyakan semua tingkahnya yang aneh . Jawabnya hanya singkat
“W gapapa. Biasa aja. Aneh kenapa w ?”
Harusnya aku tau ini tak kan membuatku menemukan apa yang ku
cari. Fawa bukan sosok yang akan
bercerita panjang lebar di sebuah sosmed, sms bahkan telpon sekalipun. Aku harus bertemu dengannya
! Akhirnya ku memintanya untuk datang kerumah.
Berjarak beberapa hari, Fawa
datang ke rumah. Banyak hal yang iya ceritakan tentang Raka, aneh memang. Mereka baru sekali itu aku pertemukan. Tapi Fawa langsung bisa tau sifat Raka. Kata yang paling ku ingat darinya
:
“Lu ga cocok sama dia, lu gak bakal lama sama dia. Dia tuh
masih kaya bocah, masih labil. DIa tuh kaya gini kaya gini kaya gini. Disini
harus lu yang bisa bawa dia. Kalo ga blablabla. Gue sih ga begitu suka orang
kaya gitu. Dunia gue beda sama dia, dia tuh blablabla.”
Semua yang di jelaskan Fawa
membuatku berpikir ulang tentang hubunganku dengan Raka.
Aku bingung antara melepaskan Raka, tapi apa alesannya ? karena Fawa ?
Ga mungkin ! aku ga bisa sejahat itu, aku harus terus menjalani semuanya sebelum aku tau benar benar buruknya Raka ?
Oh my god, semua terjawab.
Ga mungkin ! aku ga bisa sejahat itu, aku harus terus menjalani semuanya sebelum aku tau benar benar buruknya Raka ?
Oh my god, semua terjawab.
Semua ucapan Fawa terlihat
jelas dan seketika menjadi nyata seakan membuatku ingin memutar waktu dan
menghentikan hubunganku tanpa pernah melanjutkannya sampai sejauh ini.
Tepat 7 Bulan, di bulan ke 7 ku sama dia, di tanggal yang
sama, di awal bulan, 1 Agustus 2014 aku menyudahi hubungan yang ku rasa sudah
harus selesai . Tanpa ada hal yang menurutku salah.
Aku dianggapnya terlalu Ribet.
Lucu yah, lucunya itu ketika dulu aku di bilang “Terlalu
Cuek” Ku ubah menjadi sosok perhatian. Tapi di bilang “Terlalu Bawel dan Ribet”
Haha Aneh memang. Terlihat seperti hanya alasan untuk lepas dariku.
Sekarang ?? Entah apa yang membuatnya berubah. Seakan dia
membuatku bersalah di posisi ini. Aku hanya ingin semua baik baik saja. Tapi ?
Sepertinya dia tidak.
Fawa yang tau hampir semua hal tentang aku. Mendekatkanku pada temannya. Sosok Laki laki yang sekarang sudah dekat denganku di BBM. Kita belum pernah bertemu. Dannn .. Entahlah, Mungkin Teman, mungkin juga bisa lebih. Liat nanti ajaaaa :)
Langganan:
Komentar (Atom)