Rabu, 17 September 2014

Part I

Disini akan ku ceritakan tentang bagaimana ku mulai menyukai sosok Panggih. Tidaklah munafik, aku memang mudah menyukai seseorang jikalau dia saat bisa membuatku selalu tersenyum. Dia menjadi sosok penghiburku di setiap hariku. Bertemu dengannya hanya membuatku semakin terus ingin bersamanya. Tak pernah ada kata bosan dan jenuh ketika itu. Aku yang tiap hari telponan, sms’an bahkan tiap pulang sekolah selalu bertemu dengannya.

Tiba tiba tanpa ada badai, hujan atau petir, ada yang seakan berbisik di telingaku. Seakan memberitahu isyarat tentang dia. Ku buka satu persatu pesan Facebook ku. Mencari tau apa yang membuatku tak tenang. Ternyata ada yang ku temukan. Dia sempat berucap. Ingin Online facebook yang satu lagi. Apa itu artinya ? dia punya facebook dua ? Aku tidaklah langsung bertanya padanya. Ku cari satu persatu dari teman facebook nya yang sekarang ku tau. Hingga aku lihat foto profil yang sangat mirip dengan dirinya. Ku Klik profil tersebut. Alhamdulillah ternyata benar, ini facebook nya yang satu lagi.

Harusnya aku langsung saja memutuskannya. Tapi entahlah, rasanya aku ingin sekali mendengarkan penjelasannya tentang apa yang kulihat di facebook nya tersebut. Pulang sekolah kali ini aku pergi bersama dia. Ku ajak di duduk disebuah taman luas. Sebut saja RRI “masih jamannya dulu kesana”. Ku setel lagu Story In My heart. Ku buka facebook di handphone ku. Ku perlihatkan padanya tentang foto dan status facebooknya kali itu.
 
“Apa ini yang? Kamu pacaran sama aku tapi kamu masih juga jadian sama Dewi? Belom lama kamu baru putus sama dia. Kamu masukin foto aku dan kamu bilang aku itu mantan kamu. Apa sih? Apa salah aku? Kamu kalo ga sayang sama aku ga gini caranya.” Tetesan air mata pertama pun turun tepat di pipiku. Itu tandanya aku sudah tak dapat lagi menahan emosiku. Orang yang selalu membuatku tersenyum, kini justru membuatku menangis.

Dia menggenggam tanganku erat, yang dari tadi memukul badannya. Dia diam tertunduk dan ikut meneteskan air mata. Ku lihat sangat jelas raut penyesalan dalam dirinya. Terlihat benar benar jelas ketika dia ucapkan
“Maafin aku, maafin aku yang. Aku sayang kamu”

Dari sini, dia langsung memutuskan benar benar hubungannya dengan Dewi. Dia langsung benar benar berubah. Dia beri tau aku semua password Facebook nya. Bukan Cuma satu tapi keduanya. Handphone pun yang biasanya tak pernah lepas dari genggamannya. Tapi dia mulai memberikannya padaku. Seakan tak takut lagi akan ada SMS atau Telpon dari cewek lain. Aku pun mulai luluh dan berusaha melupakan semuanya. Hingga akhirnya ternyata malah aku yang mengecewakannya. Ku buat dia Marah dan sangat sangat Marah. Kuliat muka nya yang memerah dengan tatapan mata yang membuatku seakan tertusuk dan membuat ku benar benar merasa bersalah.

Kala itu aku bersama dia online di warnet. Dengan satu PC. Dia melihat comment ku bersama Aris. Disitu, Aris yang biasa ku sebut Kodok memanggilku dengan kata “Sayang”. Aku memang tidak menggubrisnya. Tapi yang membuat dia kecewa ketika aku membalas Comment nya dengan “Aku,kamu,”. Sebenarnya bukan masalah besar.

Tapi, Panggih memanglah sosok yang over protectif dan pencemburu. Aku berulang kali mengganti kartu perdana ponselku. Lebih dari 10 kali mungkin. Hanya karna dia sangat tak menginginkanku berhubungan dengan cowok satu pun. Baik teman SD, SMP, SMK, atau teman main sekalipun. Kecuali ada hubungan keluarga. Egois memang, tapi aku menilainya sebagai cara dia menjagaku. Dia benar benar terlalu takut kehilanganku. Itu yang aku tau saat itu .
Tapi apa ? Kenyataannya sekarang aku yang mengecewakan dia. Mungkin bagi orang ini impas. Tapi tidak bagiku. Aku menyakiti dia disaat dia sudah memperbaiki semua. Berubah untukku. Dan menunjukan benar bahwa dia hanya memiliki aku sebagai pacarnya. Tanpa adanya wanita lain. Aku menyesal …

Dia sedikit berbeda, dari kejadian itu. Dia lebih sering diam. Bahkan pernah suatu malam, dia menangis di telpon. Ketika aku mencoba memperbaikin semuanya kembali. Ditelpon bukan hanya dia yang menangis, tapi aku juga. Lebay mungkin. Tapi ini benar benar terjadi.
Dia yang masih sayang dan aku yang belum siap di tinggalkan. Sama sama saling menyadari kesalahan masing masing. Dan akhirnya kita berbaikan, merubah semuanya. Dan memulainya dari awal lagi.

Ada yang telah ku ceritakan pada part sebelumnya. Aku taruhan sama Maya hanya karna ingin pergi ke curug. Dan sekarang benar benar terwujud. Dia yang selalu saja begadang. Karna saat itu dia belum mempunyai pekerjaan. Dia ingin membatalkan kepergian ke curug yang mungkin tinggal satu jam lagi dari jadwal. Aku merengek, dan marah ketika itu. Dia pun akhirnya menuruti keinginanku. Membawa motornya yang ketika itu tidak terlalu sehat. Melupakan rasa kantuknya yang teramat berat. Ku liat pagi saat aku pergi berkumpul ke rumah Maya, lingkaran hitam ada di kelopak matanya. Dengan mata yang memerah dan Muka yang sedikit lesu. Dia tetap menepati janjinya.

Aku tak tega melihatnya saat itu. Ingin rasanya aku kembali pulang dan membiarkan dia tertidur. Tapi ? Ini janjiku, ini taruhanku. Kubuang jauh jauh rasa ga tegaku terhadapnya. Salah sendiri kenapa udah tau pagi mau ke curug malam malah begadang. Pikirku saat itu.

Perjalanan ke sana sangat lancar, Alhamdulillah tanpa halangan. Tapi dia mulai menurukan laju kecepatan motornya ketika dalam perjalanan pulang. Mungkin badannya tidak sekuat pagi tadi. Kantuknya mulai menggerogoti dan memintanya untuk beristirahat. Akhirnya kita berhenti di jalan. Membiarkan kawanan yang lain pulang duluan. Ku biarkan dia rebahan di sebuah kursi. Ku beli satu botol minuman dingin. Semoga dapat membuatnya segar kembali. Tapi ? Itu hanya sementara. Ketika ku lanjutkan perjalanan. Dia benar benar tak kuat lagi. Hampir menabrak mobil lain yang ada di depan

Ku memintanya berhenti. Aku memberanikan diriku untuk menboncengi dia sekarang. Aku memang bisa mengendarai motor. Cuma aku lebih ke trauma ku saat dulu jatuh dari motor. Aku jadi seakan takut memboncengi orang lain. Itu yang aku rasakan. Aku sangat pelan membawa laju motor. Dia yang mungkin risih dan tidak enak memintaku kembali berhenti. Dia memaksakan dirinya untuk membawa motor kembali. Dia hanya minta, agar aku selalu stand bay minum dan selalu memberikan lap basah dengan handuk kecil yang sudah ku beri air untuk sesekali mengelap mukanya.

Sepanjang perjalanan aku di hantu rasa was-was. Ini yang membuatku benar benar sayang kepadanya. Harusnya aku tak sejahat ini. Aku bisa mencelakai dia bahkan diriku sendiri ketika itu. Tapi apa? Tak ada satu kata pun marah atau kesal terhadapku. Dia benar benar menyayangiku. Aku sangat yakin.

Semua berjalan seperti biasanya, kembali seperti dulu. Tapi aku benar benar mengecewakannya lagi untuk yang ke dua kali. Alasanya tetap sama. Karna aku berhubungan dengar teman cowok ku. Aku hanya membalas SMS seseorang yang ketika itu menyukaiku. Sebenarnya simple. Tapi dia sangat mempercayaiku. Dia selalu menanamkan dalam ingatannya aku takkan ada kontek satu pun dengan  cowok lain. Dan dia kembali kecewa. Tidak seperti dulu, kecewanya memang tidak terlalu terlihat. Tapi selang beberapa minggu aku rasakan benar benar perubahannya. Dia mulai cuek padaku. Aku yang biasanya selalu telponan tiap malam, sekarang mulai berubah. Ku tanyakan padanya. Dia menjawab dengan sangat jujur, bahkan seperti tidak memikirkan perasaananku.
 
“Aku bosen, aku pengen kita putus tapi aku ga mau kehilangan kamu. Aku ga mau nyakitin kamu juga. Aku sayang banget. Aku bingung sekarang mesti gimana?”
Aku yang ditelponnya hanya bisa menangis. Ku pikir ini akhir ceritaku bersama dia. Tapi dia melanjutkan pembicarannya.
“Besok kamu kerumah aku pulang sekolah. Aku jelasin semuanya besok. Udah kamu jangan nangis. Jangan buat aku sedih. Aku ga tega kamu nangis. Kamu tau itu kan? Kamu nangis aku tutup telponnya.”

Ku hentikan tangisku meski masih terasa sesak. Seakan tak ada lagi oksigen di udara ketika itu. Aku yang biasanya betah berjam jam bertelponan, sekarang lebih memilih untuk tidur duluan. Alasanku mungkin karna aku lebih memilih menenangkan diriku sendiri. Menguatkanku ini bukan akhir dari segalanya. Maklum ini pacar yang menurutku paling lama sampai ketika itu 8 bulan. Biasanya aku hanya berpacaran, sebulan, dua bulan bahkan pernah hanya 3 hari. :D

Hari berganti, aku benar benar bertemu dengannya. Tepat di depan rumahnya. Aku duduk, tapi tak berbicara sepatah katapun. Aku hanya menunggu dia memulai pembicaraan. Tanpa dia memulai, aku akan tetap diam. Aku benar benar kecewa ketika itu.
Dia duduk di sampingku, memandangku, dan menarik nafas panjang lalu berkata ……


Lanjut Part II yah :)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar